Kamis, 09 Februari 2012

cara melatih kepekaan intuisi

Sebenarnya kita selalu mendapat “informasi” atau
semacam peringatan setiap kali sesuatu akan
terjadi, bahkan ketika akan jatuh sakit. Masalahnya,
mampukah kita menangkapnya?
Setiap kali habis terjadi bencana, seperti ledakan
bom, gempa bumi, tsunami atau kecelakan
pesawat, seringkali kita lalu membaca atau
mendengar cerita orang mengenai firasat yang
diperolehnya sebelum bencana terjadi. Menurut
Sumarsono Wuryadi, hal itu tidak aneh karena
sebenarnya di samping panca indera, manusia
juga memiliki indera yang tidak kelihatan namun
sangat peka, yang disebut ESP (extra sensory
perception).

Meskipun tidak setiap orang yang menyadari
adanya ESP, tetapi sebenarnya kita sudah sering
menggunakannya. Misalnya saja ketika muncul
semacam firasat bahwa akan terjadi sesuatu,
sebenarnya itu merupakan sinyal bahwa ESP kita
menangkap informasi akan terjadi bencana.
Seringkali hal itu baru kita sadari setelah terjadi.
Masih banyak contoh penggunaan ESP yang
dilakukan orang tanpa sadar, misalnya ketika baru
datang dari suatu tempat, seringkali kita
mengalami perasaan bahwa kita sudah pernah
mengunjungi tempat ini sebelumnya. Sebenarnya
kita itu merasakan melalui ESP yang kita telusuri
terkadang berhubungan dengan post life. Begitu
juga ketika suatu saat kita teringat seseorang lalu
telepon berdering dan yang menelepon ternyata
orang yang baru kita ingat. Itu memperlihatkan
bahwa telah terjadi kontak batin lewat ESP. Atau,
perasaan wanita mengenai apa saja yang dilakukan
oleh pasangannya ketika tidak bersamanya, yang
seringkali terbukti.
Semua itu membutktikan bahwa sebenarnya kita
semua memiliki ESP yang terus bekerja meskipun
tidak kita sadari. Sehingga seringkali kita bisa
begitu saja mengetahui sesuatu. Kemampuan
mengetahui sesuatu tanpa penjelasan atau alasan
itu biasanya dikenal orang sebagai intuisi.

Intuisi, Informasi dari Dalam Diri
Vicky Schippers, universal healer dari Belanda,
dalam seminarnya mengenai intuisi di Jakarta
menjelaskan bahwa ada berbagai macam bentuk
intuisi, yaitu pengetahuan yang jernih, kata-kata
atau kalimat yang berlaku di benak (tanpa suara),
penglihatan yang jelas, melihat dengan mata
ketiga, dll. Intuisi itu datang dari nurani tertinggi
atau diri kita yang terdalam, yaitu ruhani kita.
Namun intuisi ternyata tidak hanya memberikan
informasi yang menyangkut keselamatan diri saja,
karena menurut Vicky, intuisi memberikan
kebenaran pribadi yang absolute tentang apasaja
yang kita butuhkan, untuk hidup sepenuhnya
secara seimbang, dengan pemahaman dan
kebijaksanaan yang baik. Jadi melalui intuisi yang
digabung dengan kecerdasan intelektual, kita bisa
melakukan apapun tanpa batasan, mulai dari
meningkatkan kondisi kesehatan hingga
meningkatkan status keuangan. Mengapa bisa
begitu?
Menurut Vicky, pada diri manusia terdapat batin
sadar (pikiran sadar) ban batin bawah sadar. Jika
batin sadar memiliki lima indera, maka batin
bawah sadar memiliki indera keenam yang
kepekaannya tidak terbatas. Begitu pekanya
sehingga batin bawah sadar pun mencatat dan
merekam ketika seseorang memikirkan kita.
Batin bawah sadar adalah batin kolektif/ semesta
yang menghubungkan semua batin individu di
seluruh alam semesta. Ini menjelaskan bagaimana
orang-orang tertentu mampu membaca pikiran
orang lain dan juga bagaimana orang-orang yang
peka dapat menangkap isyarat dan informasi
tentang macam-macam hal.
Mengenai akurasinya, intuisi sangat tergantung
pada perkembangan pribadi dan banyaknya
latihan seseorang.

Intuisi akan semakin jernih dan
tajam ketika kita tumbuh secara spiritual dan
melalui aplikasi pengetahuan yang dipelajari
langkah demi langkah, sedikit demi sedikit dalam
hidup ini.
Intuisi Bisa Dipertajam
Untuk bisa menggunakan ESP atau intuisi secara
sengaja, tentu kita perlu mengasahnya lebih
dahulu. Menurut Sumarsono, intuisi bisa kita buat
lebih tajam jika memahami cara kerjanya.
Sebenarnya kita menangkap hal-hal yang sifatnya
intuisi pada waktu gelombang otak kita emamsuki
alpha-theta, yaitu gelombang otak yang
frekuensinya rendah, sebuah mekanisme yang
terjadi pada waktu kita tidur. Dalam keadaan sadar
(conscious), otak kita bergetar pada gelombang
yang disebut beta. Namun begitu kedua mata
tertutup, gelombangg otak kita turun ke alpha,
theta dan terus masuk ke Delta di mana kita
tertidur pulas tanpa mimpi.
Setelah itu, kita akan kembali memasuki
gelombang theta lalu kembali lagi ke fase alpha
lalu balik lagi ke fase theta, demikian seterusnya.
Jadi misalkan tidur selama 8 jam, biasanya selama
30 sampai 90 menit kita berada di fase delta. Itulah
sebabnya orang kalau baru tertidur biasanya sulit
dibangunkan. Karena 1 jam pertama tersebut
biasanya orang memang memasuki fase tidur
lelap. Kemudian selama 30-60 menit selanjutnya
kita turun ke theta lalu sisanya di alpha. Pada fase
alpha-theta inilah kita memasuki batin bawah
sadar dan supra sadar sehingga seringkali
menangkap hal-hal yang sifatnya intuitif.
Itulah sebabnya di kalangan masyarakat Jawa,
ketika menafsirkan mimpi sering kali melihat dulu
jam berapa kira- kira mimpi itu terjadi. Karena
mimpi yang dianggap bermakna adalah mimpi
yang terjadi pada jam-jam tertentu ketika
gelombang otak kita bergetar pada fase alpha-
theta.
Namun demikian, kita tidak selalu harus tidur dulu
untuk mendapatkan informasi yang sifatnya intuitif
atau hal-hal yang sifatnya supra natural. Dengan
cara meditasi, kita bisa saja memasuki fase alpha
tersebut. Tentunya dengan tahapan yang sama
dengan tahap-tahap yang kita lewati ketika tidur.
Begitu memasuki fase alpha, maka kita akan bisa
menangkap berbagai sinyal dan rambu- rambu
yang memang diberikan Tuhan demi kebaikan kita.
Memang kita tidak bisa mengubah segala sesuatu
yang sudah ditakdirkan Tuhan, Tapi tak ada
salahnya mengusahakan agar segala sesuatu
berjalan dengan lebih baik, dengan menggunakan
anugerah yang kita miliki sebagai manusia yang
memang diciptakan sempurna. Setujukah Anda?
Latihan Untuk Mengasah Intuisi
Menurut Sumarsono Wuryadi, sebenarnya sambil
melakukan kegiatan sehari-hari, kita bisa sambil
berlatih mempertajam intuisi, misalnya yaitu:

1. Ketika telp bordering, sebelum mengangkatnya
kita bisa lebih dulu memfokuskan perhatian untuk
mencoba menebak siapa yang menelepon.

2. Ketika menerima surat, sebelum membuka
sampulnya fokuskan dulu perhatian kita dan
cobalah untuk mengetahui apa kira-kira isinya.

3. Mengambil kartu- kartu berwarna, sambil
memejamkan mata lalu menebak apakah warna
yang terpegang sesuai dengan warna yang
memang ingin diambil.

4. Melempar koin lalu menebaknya.

Latihan lainnya bisa dilakukan sambil duduk dalam
kondisi rileks di tempat yang cukup sepi. Niatkan
bahwa kita ingin mendapatkan petunjuk dari
Tuhan mengenai perjalanan yang akan kita
lakukan, kondisi kesehatan, keuangan, urusan
bisnis, atau apa saja yang menjadi masalah kita
saat itu. Selanjutnya fokuskan perhatian pada
keluar masuknya napas dari lubang hidung,
sehingga kita semakin rileks dan memasuki
suasana yang hening. Begitu memasuki kondisi
alpha, cobalah mulai menangkap sinyal-sinyal yang
muncul.
Sinyal yang muncul sangat tergantung pada
kepekaan masing-masing orang. Mereka yang
penglihatannya peka (clair voyance) akan
menangkap sinyal itu dalam bentuk gambaran
visual, mereka yang pendengarannya peka (clair
audience) akan menangkapnya dalam bentuk
suara atau bisikan. Sementara orang peka
perasaannya (clair sentience) akan mengangkap
sinyal itu dengan perasaannya. Atau, tiba-tiba
muncul begitu saja sebuah pengertian atau
keseimpulan baru yang kita yakini sebagai sesuatu
yang benar meski kita tidak tahu alasannya secara
jelas.
Menurut Sumarsono, latihan-latihan itu perlu
dilakukan setiap hari sehingga semakin lama kita
menjadi semakin peka. Jika sudah sampai pada
tahap mahir, dengan mudah dan cepat kita akan
bisa “mengetahui” sesuatu yang akan terjadi.
Dengan begitu kita bisa berupaya menghindari
terjadinya hal-hal yang tidak kita inginkan.
(Sumber: Nirmala).
Published with Blogger-droid v2.0.4

0 komentar:

Poskan Komentar

herfriand blog © 2008 Template by:
SkinCorner